29.4.12

Pengembangan Berbagai Macam BTQ Di Berbagai Lembaga

TPQ Lapas Wanita II Malang, TPQ Tuna Aksara (Mawar Dinoyo), TPQ Tuna Netra, dan TPQ Metode Utsmani
Presented By : Mardiana FAI UMM




 Sekapur  Sirih

Assalamu’alaikum WR. Wb...
Segala puji  penyusun sampaikan kepada Allah Tuhan  semesta alam, dengan pujian sebanyak nikmat dan karunia yang telah Beliau berikan kepada makhluk-Nya.  Makalah sederhana ini telah selesai dan hadir di tangan pembaca semata-mata karena  izin dari-Nya.
Salam hormat serta terimah kasih yang begitu besar kami hanturkan kepada Dosen Pembina mata kuliah “Pendidikan Islam Luar SekolahBapak Saiful Amien, M. Pd yang telah sudi membimbing dalam mata kuliah tersebut. Tanpa bimbingan Beliau tentu kita tidak dapat memahami seperti apa pendidikan Islam di luar sekolah Formal.

Kelima lembaga pengajaran baca Qur’an telah selesai diteliti tim penyusun, data-data mengenai karakteristik setiap lembagapun telah disatukan dalam makalah ini. Sekelumit rintangan dalam proses perjalanan observasi juga dialami oleh tim ini, kendatipun itu hanya merupakan sebagian kecil hambatan yang dialami. Kelompok yang terbentuk dengan terpaksa ini akhirnya juga dapat menyatukan semangat dan tekad untuk menyelesaikan penelitian ini.
Kenapa dikatakan “kelompok yang terbentuk dengan terpaksa?” sebab orang-orang yang ada dalam kelompok ini merupakan sisa-sisa dari kelompok-kelompok lain yang telah terbentuk. Bermula dari Fajar Kusuma yang menawarkan beberapa dari kami untuk membentuk sebuah kelompok. Kemungkinan besar ia merasa ibah dengan nasib kami yang kerap terlupakan oleh teman-teman di kelas.
Cobaan pertama yang menghampiri kelompok kami yakni saat mengetahui tema lembaga yang kami angkat sama dengan kelompok lain (dalam hal ini adalah majelis Ta’lim) dan yang sangat kami kecewakan mengenai keputusan bahwa kelompok kami harus menganti tema lain.
Rasa kecewa itu semakin bertambah ketika beberapa orang dikelompok kami mengalami sakit karena saat observasi majelis ta’lim tersebut, hujan-kehujanan, panas-kepanasan hingga sakit dan harus merelakan beberapa mata kuliah yang begitu penting. Sungguh ini merupakan cobaan awal kelompok kami, akan tetapi allahamdulillah kelompok ini terdiri dari orang-orang yang sabar, sehingga hal tersebut bagi penyusun dianggap cobaan yang berlalu lantas kemudian justru digantikan oleh Sang Maha Kuasa dengan model pembelajaran yang jauh lebih baik, Insyaallah.
Observasi awal (Pada hari senin, tanggal 05 Desember 2011) kami mulai di Lembaga permasyarakatan wanita II di daerah kebonsari. Pada saat itu kami pergi bersama-sama, ada Mardiana ditemani oleh Indri Mawardiyanti, kemudian Tafdil Umam bersama Faishal Anwar, sedangkan saudara Fajar kusuma bersama Muharrom.
Pada saat perjalanan, motor antik milik saudara Fajar tersebut sedang mengalami masalah, ban sepedanya ternyata bocor, hal ini membuat kami kebingungan karena mereka tertinggal jauh dibelakang kami. Sehubungan dengan ketidak tahuan kami akan tempat yang dituju, maka kami memutuskan untuk bertanya, mulai dari bertanya ke pedagang kaki lima hingga ke warung-warung pinggir jalan.
Observasi berikutnya dilanjutkan ke TPQ Tunanetra (Budi Mulya) lalu TPQ Buruh Tani yang jalanannya sangat sulit dijangkau karena plosok desa dan penuh dengan persawahan, sayangnya tidak ada dokumentasi saat itu. Selanjutnya dilanjutkan ke TPQ Tuna Aksara di jl. Mt Haryono, saat perjalan ini kita juga mengalami sedikit kesulitan karena selain jalanan macet juga hujan.
Observasi terakhir (Pada hari sabtu Tanggal 17 Desember 2011) pergi ke rumah pengajar TPQ LP wanita di jalan kangean  III. Kami kesana menggunakan tranfortasi umum (angkot) dan lagi-lagi hujan setia menemani perjalanan kami, begitupun motor antik milik saudara Fajar yang kali ini bukan bocor akan tetapi kempes. Setelah sukses memperoleh informasi dari beberapa informan di setiap lembaga, maka kami janjian bertemu saudara Tafdil di jalan sunankalijaga, Na’asnya proses wawancara tidak ada di dokumentasikan, ini diluar dari kemauan, karena ternyata batrai kamera habis. Akan tetapi itu tidak menyurutkan semangat suadara Tafdil untuk mewawancarai pengelola lembaga layaknya pewawancara profesional.
Demikian sekerumit perjalanan dari tim penyusun ini. Terimah kasih yang sangat besar bagi semua orang-orang yang tergabung dalam kelompok ini, semoga kerja keras kita tidak sia-sia dan membuahkan hasil yang baik pula. Amin.



I.                   LATAR  BELAKANG

Al Qur’an merupakan kitabullah  yang diturunkan untuk pegangan hidup manusia, khususnya kaum  muslimin. Kewajiban seorang muslim terhadap Al Qur’an adalah selalu bermua’yasa (berinteraksi) setiap hari dan setiap waktu, dengan tilawah (membaca), hifizh (menghafal), tadabur dan mengamalkan nilai-nilai al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Al Qur’an tidak diturunkan untuk generasi tertentu, kelompok tertentu, umat tertentu, atau warna kulit tertentu, tapi Al-Qur’an diperuntukan kepada seluruh lapisan masyarakat, baik untuk pejabat, karyawan, pedagang, mahasiswa, pelajar, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, karena itu sesungguhnya Al-Qur’an dapat dipelajari oleh siapa saja tanpa ada dinding penghalang kecuali kekufurannya kepada Al-Qur’an dan Allah SWT. Selain itu juga Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia ke jalan yang lurus, sesuai dengan firman-Nya:
Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9).
Mengingat pentingnya Al-Qur’an dalam sentral kehidupan manusia maka sebagai umat muslim diwajibkan untuk memahami huruf-huruf Al-Qur’an. Umumnya umat Muslim di indonesia yang mengaku agama Islam justru tidak bisa memahami isi Al-qur’an, jangankan memahami, membaca saja terang masih banyak pula yang belum bisa. Kemirisan inilah yang melatarbelakangi hadirnya lembaga-lemabga pendidikan baca Qur’an di berbagai daerah di Indonesia, sehingga penyusun tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang karakteristik masing-masing lembaga yang menawarkan proses pembinaan baca Qur’an ini sebagai wadah pembinaan yang berkesinambungan.



II.  PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN
1.     Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses belajar yang diperoleh dari pendidik untuk mengembangkan daya berpikir siswa guna meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dalam memahami suatu materi pembelajaran[1].
Menurut hemat penyusun jika pembelajaran merupakan proses mengembangkan daya berpikir, maka pada pembelajaran baca Al-Quran disini sangat diharapkan agar warga binaan dapat membaca Al-Qur’an untuk mengembangkan daya kreatifitas berfikir mereka yang akan menghasilkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ungkapan definisi diatas.
2.  Baca Qur’an
Pada proses membaca ada dua aspek pokok yang saling berkaitan yaitu pembaca dan bahan bacaan. Ditinjau dari sisi pelakunya, membaca merupakan salah satu dari kemampuan (penguasaan) bahasa seseorang. Kemampuan lainnya dalam berbahasa yaitu, kemampuan menyimak (mendengarkan), berbicara, dan menulis. Kemampuan mendengar dan berbicara dikelompokkan kepada komunikasi lisan sedang kemampuan membaca dan menulis termasuk dalam komuniikasi tulisan lambang-lambang dan mengadakan pembiasaan dalam melafadkannya serta cara menuliskannya.
Adapun tujuan dari pembinaan atau pembelajaran baca-tulis al-Qur’an ini adalah agar dapat membaca kata-kata dengan kalimat sederhana dengan lancar dan tertib serta dapat menulis huruf dan lambang-lambang arab dengan rapi, lancar dan benar[2]. Menurut hemat penyusun kesimpulan dari uraian diatas bahwa pembelajaran atau pembinaan baca Qur’an adalah kegiatan pembelajaran membaca dan menyimak yang ditekankan pada upaya memahami informasi, tetapi ada pada tahap (melisankan).



A.   Karakteristik Umum Dari  Ke Lima Lembaga

v  Pendekatan Pembelajaran Yang Digunakan sama yakni :
·         Pendekatan  APPLIED APPROACH  (Pendekatan terapan)
Pendekatan ini dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dilapangan untuk segera mengangkat kualitas output dari pembelajaran. Pendekatan yang digunakan pengajar  lebih pada model pendekatan yang disebutkan dalam teori pendekatan milik Galperin yaitu belajar sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan pengetahuan[3].
 Dalam hal ini pengetahuan tentang baca tulis Al-Qur’an yang mana pengetahuan ini dilakukan melalui orentasi tentang materi belajar, kemudian memberi kesempatan untuk berlatih dan menerapkan materi secara bertahab, memberi kesempatan bagi  warga binaan  untuk berlatih secara berkesinambungan, kemudian umpan balik yang dilakukan antara pengajar dan warga binaan dimana dari kesemua itu berkelanjutan antara satu dengan yang lainnya.
v  Sama-sama menggunakan Metode Drill dan Istima’
Dalam dunia proses belajar mengajar (PBM), metode tidak kalah pentingnya  dengan materi. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran. Sebuah proses belajar mengajar bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode[4].
Metode menempati posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran. Metode drill (latihan) bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat dimilki dan dikuasai sepenuhnya oleh peserta didik. Begitupun dengan metode istima’, hal ini diguakan oleh para pengajar yang ada di setiap lembaga sebagai bentuk gambaran bunyi bacaan yang kemudian dapat mereka lakukan setelah mendengar contoh bunyi bacaan tersebut.

v  Sama-sama Menerapakan Pengklasifikasian Jenjang Bacaan

Dari semua lembaga yang ada, pengklasifikasian jenjang bacaan ini diberlakukan mengingat warga binaan berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga turut mempengaruhi kemampuan mereka terhadap kemampuan baca Qur’an.
Hal ini sangat diperlukan karena ada beberapa dari mereka yang sama sekali tidak mengenal huruf  hijaiyah, sehingga pembelajaran dimulai dari dasar bagi mereka yang belum megetahuinya sama sekali. Berbeda dengan yang termaksud dalam kemampuan standar dan up standar, mereka hanya butuh pembimbingan itensif agar tajwid dan pelafalan hurufnya lebih baik.

v  Intensitas Pertemuan belajar baca Qur’an Juga sama
Kelima lembaga dalam hal pembelajaran baca Qur’anpun memiliki intensitas pertemuan yang sama yakni hanya sekali pertemuan dalam sepekan, kendatipun dengan hari yang berbeda. Layaknya yang terjadi di Keaksaran Fungsional Mawar (KF Mawar Dinoyo) yang meiliki tiga kali pertemuan dalam sepekan, hanya saja perlu digaris bawahi dalam konteks ini yang penulis angkat terkait karakteristik umum dari lima lembaga ialah  itensitas pertemuan pembelajaran baca Qur’an.


B.  Karakteristik  Khusus  Dari  Ke Lima Lembaga

1.     TPQ  Tunanetra (Budi Mulya)
A.    Warga Binaan
Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan[5].
Adapun siswa dari Panti Rehabilitasi Tuna Netra Budi Mulya tentu saja adalah mereka-mereka yang mengalami kebutaan baik buta total (Blind) maupun low vision. Usia warga binaan yang  menetap di panti dimulai dari usia 18 hingga 50 ta hun,  dan  mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur.

B.     Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Pengajaran  Al-Quran dilaksanankan setiap satu minggu sekali tepatnya pada hari Sabtu pukul 08.00 WIB pagi hingga pukul 10.00 WIB untuk dua kelas (A dan B), kelas B masuk terlebih dahulu pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB dan diteruskan dengan kelas A pada pukul 09.00-10.00 WIB.

C.    Pengajar
Pengajaran al-Quran Braile ini dinaungi Kepala Seksi Rehabilitasi dan Pembinaan  lanjut yang saat ini dipegang oleh Dra. Dwi Endang Pujianti (Nip. 19610222 198503 1011) dengan staf pengajar dua orang yaitu Ustadz Fatoni dan Bapak Yani.
D.    Menggunakan Al-Qur’an Braile
Kapan pastinya Al-Qur’an Braile muncul pertama kali dinegri ini, setidaknya ada dua versi yang menjelaskan sejarah Al-Qur’an Braile di Indonesia, namun disini penyusun hanya membahas satu diantaranya.
Menurut staf program Balai Penerbitan Braile Indonesia (BPBI), Yayat Rukhiyat Al-Quran Braile muncul pada tahun 1954. Lahirnya Al-Qur’an Braile merupakan sebuah titik terang bagi seorang tunaetra muslim untuk mempelajari isi Al-quran, namun isi huruf braile berbeda dengan tulisan alphabet sehingga memiliki cara sendiri dalam membacanya.

E.     Kendala yang dihadapi oleh TPQ Tunanetra (Budi Mulya)
A.    Faktor internal :
1.      Kurangnya Publikasi dari lembaga Budi Mulyo sehingga warga bina hanya yang tinggal di rehabilitas saja.
2.      Dari segi peserta  tergantung tingkat intelegensi dan   kepaekaan  tangan
3.      Pengajar kurang mengikuti perkembanagan metode pengajaran Al-Qur’an yang sedang berkembang
4.      Bagi peserta yang terganggu pendegarannya mengalami kesulitan  dalam hal memahami instruksi pengajar
B.     Faktor Eksternal : Tempat hanya ada satu di Jawa Timur yakni di Kota Malang Ini saja, sehingga tidak menutup kemungkinan seluruh tunanetra muslim yang ada di tempat yang berbeda turut mersakan pembelajaran ini.
F.     Akomodasi  : berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

2.     TPQ Tuna Aksara (Keaksaraan Fungsional Mawar Dinoyo)
A.    Warga Binaan
Hampir seluruh penghuni kampung Ledok, pinggiran kali brantas Dinoyo adalah orang-orang dengan ekonomi pas-pasan. Kebanyakan dari mereka berusia 35 sampai 67 tahunan dan mereka berprofesi sebagai tukang cuci, pembantu rumah tangga, pengemis, penjual sayur (mlijo), tukang sapu jalanan, dan pemulung. Mayoritas pendidikan mereka adalah SD akan tetapi banyak yang tidak tuntas di sekolah dasarnya.

B.     Belajar  Ngaji, Belajar Calistung dan Keterampilan  
Proses pembelajaran baca Qur’an menggunakan Iqro karena mayoritas warga binaan masih buta terhadap huruf  hijaiyah. Dan Sebagai wujud kepedulian terhadap ibu-ibu tuna aksara ini, maka diadakan pula pembelajaran “calistung” yakni baca tulis dan menghitung dan beberap keterampilan yang dapat dijadikan bekal bagi mereka untuk membuka usaha. 
Calistung sendiri sangat dibutuhkan bagi ibu-ibu tuna aksara karena megingat jenjang pendidikan mereka yang banyakdrop out dari pendidikan dasar dan banyak yang tidak lulus pula. Setiap manusia memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain, secar lisan dan juga tertulis, meyampaikan pesan secara tertulis sangat dibutuhkan bagi mereka yang tertutup dan hanya dapat bersuara melalui tulisan, yang terpenting adalah tulisan tersebut dapat dipahami maksudnya oleh penerima pesan maka itulah hakikat dari komunikasi efektif[6]. Sebagai hasil dari proses pembelajaran tersebut semua warga binaan diminta untuk menulis di selembar kertas dengan tema bebas tentunya mengacu pada topik yang mereka senangi seprti pengalaman hidup, aktifitas sehari-hari, curahan hati dan berbagai topik yang mereka ingin tuangkan dalam tulisan masing-masing.
Kemudian tulisan-tulisan tersebut ternyata mendapat apresiasi dari sebuah majalah untuk kemudian diterbitkan[7]. Dengan tulisan apa adanya akhirnya terbukti bahwasanya proses pembelajaran tersebut berjalan dengan baik. Begitupun dengan pembelajaran keterampilan semata-mata diberlakukan untuk modal dasar dalam usaha menambah penghasilan, diataranya membuat kue-kue kering, memasak, membuat jamu, membuat makanan dan minuman sehat dari hasil tanaman di halaman rumah maupun keterampilan membuat aksesoris.
Produk yang dipasarkan kebanyakan kue-kue, rempeyek dan jamu. Usaha pemasaran melalui kerjasama dengan kantin SMKN 5 Malang. Sedangkan belajar hitung menghitung sejauh ini hanya diarahkan kehitung menghitung terkait keuntungan ataupun kerugian pada saat proses transaksi jual beli hasil usaha yang mereka jual.

C.     Pengajar (Tutor)
Pendidikan ini dibawah naungan Ortom Muhammadiyah yakni Aisyiah Cabang Dinoyo Malang dengan tutor utama bernama Aminah Asminingtyas, ST.

D.     Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Pendidikan baca quran bagi Ibu-ibu tuna aksara ini berlokasi di pinggiran stren kalibrantas, jl. MT Haryono gg 17, RT. 01, RW.06 Dinoyo Malang (di mushollah Al-kautsar ledok). Jalan menuju mushollah tersebut sangat kecil dan terjal, sepeda motorpun sulit untuk masuk kesana. Disekitarnya juga terdapat rumah-rumah yang sangat sederhana bahkan ada beberapa yang tidak layak huni.
Untuk waktu pembelajaran baca Qur’an dilaksanakan seminggu sekali yakni setiap akhir-akhir pekan yang dilaksanakan seminggu sekali yaitu hari sabtu jam18.00 WIB (Ba’da magrib) karena saat ini adalah saat yang tepat karena ibu-ibu telah selesai beraktifitas masing-masing. Sedangkan Pembekalan keterampilan dilakukan tiga kali dalam sepekan yakni Rabu, Kamis dan Minggu pada jam yang sama seperti pembelajaran baca Qur’an.

E.     Metode dan Srategi Pembelajaran Baca Qur’an
Metode dan strategi pelaksanaannya menggunakan metode iqro’ dan metode al barqi. Metode iqro’ memang sering dipakai dalam pengajaran Al Quran, memang metode ini sangat efektif karena pengajarannya bertahap mulai dari yang mudah dulu kemudian naik sampai tahap yang sulit, memang membutuhkan waktu yang agak lama.
Metode Al Barqi adalah metode baru dan terkini dalam mendalami dan memahami tata bahasa arab dan pemberian makna dengan efektif dan efisien. Al barqi menampilkan cara belajar mendalami dan membaca Al qur'an dengan cepat, maka dari itu metode ini di namakan al barqi (kilat).

F.     Kendala Yang dihadapi Oleh Keaksaraan Fungsional Mawar Dinoyo
A.    Faktor Internal
1.      Apabila diajari dengan orang yang lebih muda kebanyakan dari mereka tidak mau. Hal ini terbukti saat Asyiah mengajak mahasiswi-mahasiswi immawati IMM (Ikatan mahasiswa Muhammadiyah) untuk turut mebina disana, kebanyakan dari mereka tidak hadir untuk mengaji kalaupun hadir hanya berkisar  9-10 orang saja, sehingga Pembinaan tersebut lebih diarahkan untuk membina anak-anak mereka saja. Sedangkan pengajaran bagi mereka tetap dipegang oleh ibu-ibu Aisyah dengan tempat dan waktu semula.
2.      Beberapa warga binaan merasa bisa membaca Qur’an dengan baik tidak mau lagi ikut mengaji dan mereka lebih memilih untuk fokus keterampilan yang berbasis ekonomi agar mereka dapat terampil dan segera mandiri.
3.      Adanya peminjaman lunak yang diberikan oleh Aisyiah cabang dalam membuka usaha mereka, dan hal ini disatu sisi ternyata mengalami masalah karena ternyata menjadi kebiasaan bagi mereka untuk meminjam uang termaksud untuk kebutuhan diluar dari modal usaha, sehingga ketika Aisyiah tidak memberikan maka beberapa dari mereka tidak mau untuk datang lagi ke pembinaan KF (Keaksaraan Fungsional) Mawar yang pada akhirnya pula kerugian kembali kepada mereka sendiri.
B.     Faktor Eksternal
Adanya rebutan Jama’ah dengan ormas lain, hal ini terjadi karena Aisyiah belum bisa mensubjekkan warga binaan, hanya mereka masih  sebatas objek dakwah yang dilakukan untuk menjalankan rentetan program kegiatan yang dirancang. Akan tetapi beberapa tahun belakangan ini secara legal desa ledok pinggiran kali brantas dinoyo tersebut resmi menjadi warga binaan aisyiah cabang dinoyo Malang dan hal ini turut didukung dengan support oleh Dinas Pendidikan Kota Malang melalui penyedian sarana pebelajaran baik pembelajaran baca Qur’an maupun pembelajaran keterampilan berbasis ekonomi.

3.      TPQ Lembaga Permasyarakatan Wanita II
A.    Warga binaan
Peserta didik adalah semua narapidana di lembaga permasyarakatan wanita II yang beragama Islam.. Narapidana muslimah berjumlah kurang lebih 300 orang .

B.     Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Lokasi pendidikan baca Qur’an dilakukan di rumah tahanan sesuai dengan status peserta didik sebagai narapidana yakni di Lapas Wanita II  Kebonsari-sukun Malang,  lebih spesifiknya lagi di musollah  LP An-Nissa’ dan kadang proses pembelajaran dilakukan di taman, ruang makan sesuai keinginan dan  kesepakatan napi warga binaan dan tutor.

C.    Pengajar (Tutor)
Pembelajar ini telah berlangsung sejak tahun 1987 atau telah berlangsung selam 24 tahun. Selama ini pembinaan baca Qur’an di bimbing oleh Ibu Aisyiah Klojen dengan segenap jajarannya. Ibu Suktikno M, Ag bertindak sebagai pintor (pimpinan tutor) dan beberapa tutor lainnya yakni ibu Arkono S. pdi, Sukurdaha M. Ag, Asriana M. Ag. Akan Tetapi sering pula menganjak tutor muda yang berasal dari ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu Tutor umum juga ada yang bersal dari Kementrian Agama.

D.    Pembelajaran Berbasis Kelompok
Pembelajaran di lapas wanita ini menggunakan pembelajaran berbasis kelompok, karena mengingat jumlah warga binaan yang begitu banyak. Kelompok dibentuk berdasarkan blok kamar dari setiap narapidana. Terdapat 15 blok dengan masing blok berjumlah 7 kamar yang dimana dalam setiap kamar dihuni 17 orang. Pembagian ini telah terjadwal oleh sie. ketertiban lapas wanita. Pengajianpun terjadwal bahkan memiliki absen kehadiran.

E.     Kendala yag dihadapi LP Wanita II
A.    Faktor  internal :
1.      Akomodasi biaya bersal dari satu arah, yakni hanya dari Aisyiah Klojen Malang, akomodasai terkait transfortasi dan makan bagi tutor sangat penting menjadi perhatian bagi pimpinan atau para petugas lapas karena bagaimanapun tutor sagat kesulitan terhadap transportasi menuju lapas, mengingat tempat tinggal dan lapas sangat jauh jaraknya.
2.      Narapidana sangat sulit diajak untuk belajar ngaji, faktor pertama ialah karena mengingat jadwal mereka yang di padati aktifitas terstruktur maka mereka sering kali memanfaatkan pertemuan belajar ngaji untuk mengobrol antar sesama, sehingga sering kali pengajar atau tutor meminta kepada mereka untuk tidak ribut ketika temannya sedang pembimbingan.
Kemudian faktor berikutnya proses pembelajaran ngaji menjadi minat kedua setelah proses ta’lim konseling. Ta’lim yang dipadukan dengan sentuhan-sentuhan psikologi sangat di minati di kalangan napi, karena dari ta’lim ini mereka merasa banyak mendapat pencerahan baik keteguhan hati maupun dari segi psikologi diri.
3.      Banyak dari Napi yang bersikap acuh-tak acuh pada saat dibimbing oleh Astor (Asisten tutor yang bersal dari teman Napi sendiri). Sebutlah Atik Istito’ah[8] yang merupakan asisten tutor saat proses pembelajaran baca Qur’an berlangsung, ia mangatakan :
“Saya sering Kesel sama teman-teman saya kalau diajak mengaji, apalagi kalau saya yang bantu ngajar. Soalnya mereka menganggap remeh dan bersikap cuek  dengan kemampuan saya, akan tetapi setelah mereka tau saya istri dari seorang ustad dan pandai mengaji maka sebagian besar mereka senang saya bantu untuk mengaji”  

B.     Faktor Eksternal :
1.      Hari Pelaksanaan bersamaan dengan  hari ibadahnya  umat kristiani, jarak Musollah dengan gereja hanya dibatasi oleh taman, dan taman tersebutpun tidak begitu luas sehingga ketika umat kristiani menyanyi sangat menganggu proses baca qur’an yang dilaksanakan di musollah. Dalam rangka  megantisipasinya kadang kala pembelajaran dilakukan di ruang makan sesuai kelompok masing-masing atau temapt-tempat yang dianggap kondusif.
2.      Sulitnya datang tepat pada waktunya dikarenakan angkot yang ditumpangi harus menunggu terlebih dahulu penumpangnya penuh baru berangkat sehingga kadang kala membuat pengajar datang tidak tepat pada waktunya akan tetapi hal ini di antisipasi oleh pengajar dan segenap tutor lainnya dengan berangkat lebih awal dari jam pelajaran.

4.     TPQ Buruh Tani (Yayasan Assalam)
A.    Nama lembaga adalah  TPQ Assalam
Di perkampungan yang subur, makmur, udaranya masih sejuk jauh dari keramaian dan kebisingan sangatlah kurang mendapatkan sentuhan-sentuha Islami. Walaupun meraka mengaku diri mereka umat yang beragama muslim. Pada hakikatnya para petani ini masih kurang memahami Islam secara dasar karena masih banyak di antara mereka (para petani) belum bisa melakukan tuntunan Islam dasar. Maka dalam madam Majelis Pengajaran Al-Qur`an yang dinamakan “Assalam” diadakan pembimbingan, dalam hal pembelajaran baca Qur’an. Disamping itu juga diselingi tentang pembelajaran praktek wudhu, praktek shalat, dan menanamkan kedisiplinan bertutur kata yang baik.

B.     Proses Pembelajaran
Ø  Sebelum memulai pengajian para anggota pengajiaan melulainya dengan zikir setelah zikir itu dilakukan dilanjutkan dengan do`a dan mulailah kajian.
Contoh zikir :
1.      Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta ya dzali jalaali wal ikram (33x)
2.      Laa ilaha illalahu wahdahu laa syaryikalahu lahul mulkuwal hamdu wahuwa` ala kulli syain qadir (33x)
3.      Membaca ayat kursi (Q.S Al-Baqarah ayat 255).
Ø  Setelah pembelajaran Al-Qur`an selesai maka para anggota pengajian itu diberi siraman rohani berupa pencerahan atau diberikan ceramah biasanya di selingi dengan pembelajaran tentang praktek ibadah.

C.    Warga Binaan
Semua warga binaan  berprofesi sebagai petani, waktu mereka banyak dihabiskan di sawah. Tidak sedikit dari mereka yang berpendidikan rendah, yang menjadi prioritas mereka adalah bagaimana mencukupi kebutuhan keluarga serta biaya pendidikan anak-anak mereka. Warga binaan cukup berpariatif dari segi umur, mulai dari 30 hingga 68 tahunan.

D.    Kendala yang di hadapi TPQ Buruh Tani (Assalam)
A.    Faktor internal :
1.      Kebanyakan mereka disubukan dengan mengurus keluarga sehingga turut menyita waktu mereka dalam meluangkan waktu  mengaji
2.      Bertani juga demikan, sehingga pada saat jadwal pembelajaran ngaji dimulai sementara bertepatan dengan panen di sawah maka mereka terang lebih memilih untuk mengurus sawahnya dari pada mengaji.
3.      Dari segi ingatan, karena kebanyakan dari mereka berusia lanjut sehingga mempengaruhi daya ingat.
4.      Kurangnya pengajar dan kondisi Musollah yang kurang memadai, hal ini dibuktikan pada saat hujan atap musollah bocor
5.      Akomodasi pendanaan berasasal dari swadaya masyarakat yang bersatatus sebagai warga binaan TPQ Buru tani saja.

B.     Faktor Eksternal :
Akses tempat sangat mempengaruhi, kareana jarak rumah warga dengan tempat pengajian relatif jauh.

E.   TPQ Metode Utsmani
A.   Warga Binaan
Warga binaan adalah mereka yang terdiri dari mahasiswa, guru sekolah formal, guru TPQ, dan berbagai profesi lainnya. Dari semua peserta didik yang aktif sekitar 50an orang dari jumlah keseluruhan yakni 70 orang.

B.   Tempat dan Waktu Pembelajaran
Pembelajarn ini bertempat di Masjid Utman Bin Affan,  jl. Sunankalijaga, belakang UIN  Maliki Malang. Kegiatan Pembelajaran dilaksanakan setiap hari sabtu pukl 14.00-17.00 WIB.

C.   Metode Utsmani Dalam Pembelajaran Baca Qur’an
Dalam proses belajar mengajar TPQ Metode Utsmani ini menggunakan lima metode, yaitu :
1.      Individual/sorogan
Dimana cara mengajarnya dengan satu per satu dipanggil sesuai dengan pelajaran yang dipelajari atau dikuasai mrid.
2.      Klasikal
Yaitu mengajar dengan cara memberikan materi pengajaran secara bersama-sama kepada sejumlah murid dalam satu kelas
3.      Klasikal-Individual
Yaitu mengajar yang dilakukan dengan cara menggunakan sebagian waktu untuk klasikal dan sebagian waktu yang lain untuk individual
4.      Klasikal Baca Simak (KBS)
Yakni mengajarkan secara bersama-sama setiap halaman judul dan diteruskan secara individual pada halaman latihan sesuai halaman masing-masing murid dan disimak oleh murid yang tidak membaca.
5.      Klasikal Baca Simak Murni (KBSM)
Semua murid menerima pelajaran yang sama, dimulai dari poko pelajaran awal sampai semua anak lancar.


D.   Kendala yang dihadapi
A.    Faktor Internal :
1.      Muridnya kurang Disiplin (sering telat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran)
2.      Paradima peserta yang berbeda-beda (pemahaman awal terhadap Al-quran)
3.      Tingkat kehadiran atau presensi murid sangat kurang.
B.     Faktor Eksternal :
1.      Paradigma masyrakat. Masyarakat menganggap susah untuk mempelajari metode ini karena berbeda dengan metode-metode yang telah ada.
2.      Oleh metode lain pernah dianggap sebagai plagiat (meniru).
3.      Dipandang aneh dan dituduh sebagai aliran sesat.

C.   Prediksi Perkembangan Pengajaran Al-Qur’an
Model PAILS yang penyusun teliti terbagi menjadi dua kategori yakni, pengajaran Al-Qur’an yang berada dibawah naungan lembaga pemerintah dan non lembaga (swadaya masyarakat).
Adapun pengajaran al-Quran yang berada dibawah naungan lembaga tentu saja perkembangannya terkait dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Apabila pemerintah tidak mendukung pengembangan pengajaran tersebut maka tentu saja akan sulit berkembang, hal ini disebabkan karena keterbatasan akses, pendanaan, perizinan dan sebagainya.
Jika melihat UUD 1945 yang memberikan keleluasaan dalam mengekspresikan simbol-simbol keberagamaan serta peran pemerintah yang memberikan keleluasaan terhadap pengembangan pendidikan agama (PAI) yang salah satu rumpunnya adalah pengajaran al-Quran, hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah mendukung terhadap perkembagan lembaga-lembaga pemerintah yang mengajarkan PAI sehingga pengajaran Al-Quran 5-10 tahun mendatang di prediksikan masih bisa berkembang di tambah lagi dengan semangat keberagamaan yang menunjukkan peningkatan di dukung pula dengan keyakinan masyarakat bahwa al-Quran adalah obat dari semua penyakit terutama penyakit rohani, yang noatabenenya penyakit ini (rohani) adalah permasalahan mendasar atas kerusakan moral pemimpin dan masyarakat dewasa ini.
Kebudayaan masyarakat Indonesia yang cenderung religius juga mendukung bertahannya lembaga-lembaga pengajaran Al-Quran baik yang bersifat lembaga pemerintah maupun swadaya. Masyarakat kita masih memegang teguh bahwa membaca al-Quran memberikan tabungan pahala bagi mereka di akherat kelak serta mampu memeberikan keberkahan dalam kehidupan mereka didunia (saat ini).
Metode pengajaran al-Quran yang juga senantiasa berinovasi (mulai dari metode klasik baghdady, al-Barqy, Ummi, Iqra’, dsb) menjadi bukti keseriusan dan perhatian lebih dari para pakar di tamabah lagi dengan maraknya media-media pengajaran al-Quran baik yang berbasis audio, visual, audio-visual, software (aplikasi), bahkan dengan menggunakan internet. Dengan adanya inovasi-inovasi tersebut masyarakat Islam semakin tertarik untuk mempelajari  cara baca al-Quran.
Selaras dengan hal di atas adalah janji Allah sendiri yang senantiasa akan selalu menjaga al-Quran, sebagaimana dalam surat al-Hijr (15:9) Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami-lah yang menjaganya”.

D.  Kesimpulan dan Saran

Masyarakat Islam pada umumnya masih menghargai dan mengagungkan al-Quran sebagai kitab suci mereka, oleh karena itu perkembangan pengajaran al-Quran akan tetap dapat kita saksikan geliatnya meski dihadang berbagai problematika baik dari sisi invasi budaya asing, paradigma pragmatis, pembiayaan dan lain sebagainnya.

Dukungan pemerintah terhadap pengembangan pengajaran al-Quran sangat diharapkan baik dari segi moril maupun finansial sebagai booster percepatan tercapainya masyarakat Indonesia yang melek al-Quran. Pengetahuan para pengajar al-Quran terhadap perkembangan metode dan media ajar al-Quran harus terus ditingkatkan demi tercapainya pengajaran yang efektif dan menarik animo masyarakat.


[1] Agus Sprijono.2009.Cooverative Learning. Jogyakarta : Pustak Pelajar. Hlm.1.
[2] Rosihon Anwar. 2008.Ulum Al-quran (untuk UIN, STAIN, dan PTAIS). Bandung : PT. Pustaka Setia : Hlm.5.
[3] Romlah, Diktat Psikologi Belajar Materi 8
[4] Ismail SM, Strategi pembelajaran  Agama Islam Berbasis PAIKEM, Hal. 29
[6] Salis Yuniardi. 2009. Membentuk Generasi Al-khafi Melalui goresan Tinta. Hal. 28
[7] Majalah Ekspresi Ibu, Edisi II. Hal. 11-13
[8] Narapidana yang berasal dari Gressik dan Terkena Pelanggaran 378 tentang Pengelembungan Dana

3 komentar:

M. Feri Firmansyah Al Bageloka mengatakan...

setuju
semangat lagi

Diana.Tahar IshLahunnisa' mengatakan...

Thnkz ^^

nadya mengatakan...

mas boleh minta CPnya???

Poskan Komentar